8) Hukum Allah
Sepuluh Perintah: tujuan dan keabsahan yang kekal
Hukum Allah adalah ungkapan dari karakter-Nya yang penuh kasih. Sepuluh Perintah menunjukkan bagaimana kita harus berhubungan dengan Allah dan dengan sesama. Dalam pelajaran ini, kita akan mempelajari pentingnya dan kekekalan hukum Allah.
Asal-Usul Hukum
Siapa yang menulis Sepuluh Perintah?
Di mana Sepuluh Perintah ditulis?
Walaupun Allah menulis Sepuluh Perintah di Sinai, prinsip-prinsip moral dari hukum-Nya sudah menyatakan pemerintahan-Nya sebelum itu.
“Hukum Allah sudah ada sebelum manusia diciptakan. Hukum itu disesuaikan dengan keadaan makhluk-makhluk yang kudus; bahkan para malaikat pun diperintah olehnya.” — Terjemahan/parafrasa lokal; sumber: Ellen G. White, A Verdade sobre os Anjos, VA 49.5
Tujuan Hukum
Apa satu fungsi penting dari hukum?
Ke mana hukum menuntun kita?
Bagaimana Yesus merangkum seluruh hukum?
Kekekalan Hukum
Apakah Yesus datang untuk membatalkan hukum?
Apakah iman meniadakan hukum?
Apa definisi dosa menurut Alkitab?
“Hukum Allah, sebagaimana disajikan dalam Kitab Suci, luas dalam tuntutannya. Setiap prinsipnya adalah kudus, adil, dan baik.” — Terjemahan/parafrasa lokal; sumber: Ellen G. White, Mensagens Escolhidas 1, ME1 211.1
Sepuluh Perintah
Di mana kita menemukan Sepuluh Perintah dalam Alkitab?
Apa yang ditunjukkan oleh memelihara perintah-perintah?
Dan Sekarang?
Hukum Allah tetap berlaku:
- Allah menuliskannya: Bukan ciptaan manusia
- Menyatakan dosa: Menunjukkan kebutuhan kita akan Kristus
- Menuntun kepada Kristus: Menjadi penuntun kita menuju keselamatan
- Menyatakan kasih: Memelihara hukum berarti mengasihi Allah dan sesama
- Kekal: Yesus tidak membatalkannya, melainkan meneguhkannya
Keputusan Saya
Saya mengakui bahwa hukum Allah itu kudus, adil, dan baik. Saya mengerti bahwa saya tidak dapat diselamatkan oleh hukum, tetapi hukum menunjukkan kebutuhan saya akan Kristus. Karena kasih kepada Allah, saya rindu memelihara perintah-perintah-Nya sebagai ungkapan iman dan rasa syukur saya.