1) Hidup dan Jiwa

Apa itu jiwa menurut Alkitab? Pahami penciptaan manusia dan arti sejati dari 'jiwa yang hidup'

Apa itu jiwa? Dari mana kehidupan berasal? Sedikit tema menimbulkan begitu banyak kebingungan seperti ini. Banyak orang percaya bahwa kita memiliki jiwa yang tidak dapat mati, yang tinggal di dalam tubuh dan terus ada setelah kematian. Tetapi apakah itu benar-benar yang Alkitab ajarkan?

Untuk memahami apa yang terjadi dalam kematian, kita harus terlebih dahulu memahami apa itu kehidupan dan apa artinya menjadi “jiwa yang hidup”. Jawabannya ada di halaman-halaman pertama Alkitab.

Penciptaan Manusia

Dari bahan apa Allah membentuk tubuh manusia pertama?

Dari bahan apa Allah membentuk tubuh manusia pertama?

Catatan Alkitab jelas: Allah membentuk manusia dari debu tanah. Tidak ada sesuatu yang mistis atau rumit dalam uraian ini. Tubuh manusia terbuat dari unsur-unsur kimia yang sama dengan yang terdapat di tanah, seperti karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, dan mineral lainnya.

Apa yang Allah hembuskan ke dalam hidung manusia?

Apa yang Allah hembuskan ke dalam hidung manusia?

“Nafas hidup” (dalam bahasa Ibrani: neshamah) adalah prinsip kehidupan yang Allah berikan kepada semua makhluk hidup. Itu bukan pribadi sadar yang berdiri sendiri, melainkan kehidupan yang berasal dari Allah.

Rumus Kehidupan

Alkitab menyajikan “rumus” sederhana untuk penciptaan manusia:

DEBU TANAH + NAFAS HIDUP = JIWA YANG HIDUP

Apa yang manusia MENJADI setelah Allah menghembuskan nafas hidup?

Apa yang manusia MENJADI setelah Allah menghembuskan nafas hidup?

Perhatikan: ayat itu tidak mengatakan bahwa manusia menerima jiwa, tetapi bahwa ia menjadi jiwa yang hidup. Manusia tidak memiliki jiwa; manusia adalah jiwa. Kata Ibrani yang dipakai di sini adalah nephesh, yang berarti “makhluk hidup” atau “ciptaan yang hidup”.

“Teori tentang kekekalan jiwa adalah salah satu kepalsuan yang Roma pinjam dari kekafiran dan masukkan ke dalam agama Kekristenan.” — Terjemahan/parafrasa lokal; sumber: Ellen G. White, O Grande Conflito, p. 549, par. 2.

Hewan Juga Disebut “Jiwa”

Kata yang sama, 'jiwa yang hidup' (nephesh), dipakai untuk menggambarkan makhluk apa lagi?

,

Kata yang sama, 'jiwa yang hidup' (nephesh), dipakai untuk menggambarkan makhluk apa lagi?

Kata Ibrani yang sama, nephesh (“jiwa yang hidup”), yang dipakai untuk menggambarkan manusia dalam Kejadian 2:7 juga dipakai untuk hewan. Ini menunjukkan bahwa “jiwa” dalam Alkitab bukan berarti pribadi sadar yang tidak dapat mati, melainkan makhluk hidup.

Dapatkah Jiwa Mati?

Apa yang terjadi pada jiwa yang berdosa?

,

Apa yang terjadi pada jiwa yang berdosa?

Jika jiwa tidak dapat mati, bagaimana mungkin jiwa bisa mati? Alkitab jelas: jiwa dapat dan akan mati. Ini hanya masuk akal ketika kita memahami bahwa “jiwa” berarti manusia seutuhnya, bukan bagian manusia yang tidak dapat mati.

Siapa SATU-SATUNYA yang memiliki kekekalan pada diri-Nya?

Siapa SATU-SATUNYA yang memiliki kekekalan pada diri-Nya?

Kekekalan hanya milik Allah. Dialah sumber segala kehidupan, dan setiap kekekalan yang akan diterima manusia adalah pemberian dari Dia, bukan sesuatu yang kita miliki secara alami.

Roh yang Kembali kepada Allah

Sebagian orang mengutip untuk membela ajaran tentang kekekalan jiwa: “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”

Apa itu 'roh' (ruach) yang kembali kepada Allah ketika kita mati?

,

Apa itu 'roh' (ruach) yang kembali kepada Allah ketika kita mati?

Kata Ibrani ruach berarti “hembusan”, “angin”, atau “nafas”. Itu adalah prinsip kehidupan yang sama yang diberikan dalam penciptaan. Ketika kita mati, prinsip itu kembali kepada Allah, bukan sebagai pribadi sadar, tetapi sebagai kehidupan yang Allah berikan.

Lalu Sekarang?

Memahami kebenaran Alkitab tentang jiwa melindungi kita dari banyak penipuan:

  • Kematian bukan siksaan kekal dan bukan pengembaraan sebagai roh, melainkan tidur sampai kebangkitan.
  • Jika orang mati tidak sadar, siapakah “roh-roh” yang berkomunikasi?
  • Setiap saat kehidupan adalah pemberian Allah.
  • Pengharapan kita bukan pada jiwa yang tidak dapat mati, melainkan pada kebangkitan yang Kristus janjikan.

“Doktrin tentang kesadaran manusia dalam kematian, khususnya kepercayaan bahwa roh-roh orang mati kembali untuk melayani orang hidup, telah membuka jalan bagi spiritisme modern.” — Terjemahan/parafrasa lokal; sumber: Ellen G. White, O Grande Conflito, p. 551, par. 2.

Keputusan Saya

Saya menerima ajaran Alkitab bahwa saya adalah jiwa yang hidup, seorang manusia utuh yang diciptakan oleh Allah. Saya mengakui bahwa hanya Allah yang memiliki kekekalan, dan bahwa pengharapan saya akan hidup kekal ada di dalam Yesus Kristus, yang berjanji membangkitkan orang-orang yang percaya kepada-Nya.