2) Prinsip Pernikahan Bahagia
Kasih, hormat, komunikasi, dan peran Alkitab untuk persatuan yang diberkati
Allah bukan hanya menetapkan pernikahan; Ia memberi prinsip agar pernikahan menjadi sumber berkat dan sukacita. Pernikahan bahagia tidak terjadi kebetulan; pernikahan itu dibangun setiap hari di atas dasar Alkitab yang kokoh.
Dasar: Kasih yang Berkorban
Bagaimana suami harus mengasihi istrinya?
Lihat jawaban
Jawaban: Seperti Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri bagi jemaat
Efesus 5:25: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya"
Ukuran kasih suami adalah Kristus: kasih yang berkorban, tidak bersyarat, dan mencari kebaikan orang lain sekalipun dengan biaya pribadi. Ini bukan kasih yang hanya berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan perjanjian dan komitmen.
Apa artinya mengasihi istri seperti tubuh sendiri?
Lihat jawaban
Jawaban: Memelihara dan merawat dia seperti merawat diri sendiri
Efesus 5:28-29: "Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,"
“Baik suami maupun istri jangan berpikir untuk menjalankan kekuasaan sewenang-wenang atas yang lain. Jangan berusaha memaksa satu sama lain tunduk pada keinginanmu. Mustahil melakukan hal ini dan tetap memelihara kasih timbal balik.” — Terjemahan lokal; sumber: Ellen G. White, The Ministry of Healing, MH 361.5
Peran Hormat
Apa yang secara khusus Alkitab ajarkan kepada istri terhadap suami?
Lihat jawaban
Jawaban: Menghormati suami
Efesus 5:33: "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya."
Sementara suami dipanggil untuk mengasihi, istri dipanggil untuk menghormati. Ini bukan berarti istri tidak perlu mengasihi atau suami tidak perlu menghormati. Keduanya penting, tetapi Alkitab menekankan kebutuhan praktis masing-masing.
Apakah ketundukan istri berarti perbudakan atau kerendahan martabat?
Lihat jawaban
Jawaban: Tidak. Ketundukan Alkitab bukan kerendahan martabat, tetapi harus dipahami dalam terang kasih suami yang berkorban dan takut akan Kristus
Efesus 5:21-22: "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,"
Efesus 5 dimulai dengan sikap Kristen untuk saling tunduk dalam takut akan Kristus. Lalu Paulus menerapkan prinsip ini pada pernikahan, menunjukkan tanggung jawab yang berbeda: istri dipanggil menghormati kepemimpinan suami yang melayani, dan suami dipanggil mengasihi dengan kasih yang berkorban seperti Kristus mengasihi jemaat. Ini tidak pernah mengizinkan penindasan, kekerasan, atau rasa unggul secara moral.
Komunikasi dan Konflik
Bagaimana kita harus menangani amarah dalam hubungan?
Lihat jawaban
Jawaban: Jangan biarkan matahari terbenam atas amarahmu
Efesus 4:26-27: "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."
Konflik tidak terhindarkan; yang penting adalah bagaimana kita menyelesaikannya. Jangan biarkan masalah yang belum selesai menumpuk. Menyelesaikannya sebelum tidur mencegah kepahitan berakar.
Jenis perkataan apa yang merusak hubungan?
Lihat jawaban
Jawaban: Perkataan kotor, yaitu merusak dan merendahkan
Efesus 4:29: "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."
“Hendaklah masing-masing memberi kasih, bukan menuntutnya. Kembangkanlah yang paling mulia dalam dirimu, dan cepatlah mengakui sifat-sifat baik pada yang lain.” — Terjemahan lokal; sumber: Ellen G. White, The Ministry of Healing, MH 361.2
Keintiman dalam Pernikahan
Apa kata Alkitab tentang keintiman seksual dalam pernikahan?
Lihat jawaban
Jawaban: Ranjang pernikahan tidak bercemar
Ibrani 13:4: "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah."
Keintiman seksual di dalam pernikahan itu murni dan diberkati Allah. Kidung Agung merayakan kasih romantis dan jasmani antara suami dan istri.
Haruskah suami dan istri menahan keintiman satu sama lain?
Lihat jawaban
Jawaban: Tidak; jangan saling menjauh kecuali atas persetujuan bersama dan untuk sementara
1 Korintus 7:3-5: "Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak."
Sekarang Bagaimana?
Prinsip untuk diterapkan hari ini:
- Suami: kasihilah dengan pengorbanan. Tanyakan, “Apa yang dapat saya lakukan untuk dia hari ini?”
- Istri: hormatilah dengan tulus. Hormati suamimu dengan kata dan tindakan.
- Keduanya: berkomunikasilah dengan lembut. Hindari perkataan yang merusak.
- Keduanya: selesaikan konflik dengan cepat, jangan biarkan matahari terbenam atas amarah.
- Keduanya: kuatkan persatuan dengan saling merawat dalam semua bidang, dari emosi dan rohani sampai keintiman jasmani.
- Keduanya: tempatkan Allah di pusat. Berdoa dan belajar bersama.
Keputusan Saya
Saya ingin membangun pernikahan saya, sekarang atau kelak, di atas prinsip Alkitab. Saya berkomitmen untuk mengasihi/menghormati pasangan saya, berkomunikasi dengan lembut, memelihara keintiman, dan menempatkan Allah di pusat hubungan kami.