Apakah Yesus meniadakan Sabat atau menunjukkan tujuannya yang benar?
Yesus tidak memperlakukan Sabat sebagai beban atau sebagai perintah yang dibuang. Ia menjalaninya sebagai hari penyembahan, belas kasihan, dan pemulihan.
Banyak orang Kristen yang tulus bertanya apakah Yesus meniadakan Sabat. Pertanyaan ini dapat dimengerti, karena Injil mencatat konflik antara Kristus dan beberapa pemimpin agama justru pada hari itu. Tetapi pertanyaannya harus diajukan dengan hati-hati: apakah Yesus menolak Sabat Alkitab, atau Ia sedang memperbaiki cara manusia memeliharanya?
Injil menunjukkan bahwa Yesus tidak memperlakukan Sabat sebagai perintah yang tidak bernilai. Ia menghadiri ibadah pada hari itu, mengajar pada hari itu, menyembuhkan pada hari itu, dan berkata bahwa Ia adalah “Tuhan atas hari Sabat” (Markus 2:28). Itu bukan bahasa peniadaan. Itu adalah otoritas untuk menunjukkan tujuan sejati hari itu.
Yesus memiliki kebiasaan memelihara Sabat
Lukas 4:16 mengatakan bahwa Yesus masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat “menurut kebiasaan-Nya”. Ungkapan ini penting. Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan kebiasaan yang teratur. Yesus ikut beribadah, membaca Kitab Suci, dan mengajar pada hari itu.
Hal ini terlihat jelas dalam pelajaran Yesus dan Sabat. Sabat adalah bagian dari kehidupan rohani Kristus. Ia tidak menjauh dari hari kudus itu, dan Ia tidak mengajar murid-murid-Nya untuk meremehkannya.
Ketika Yesus menyatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas Sabat, Ia tidak sedang mengurangi nilai Sabat. Ia sedang menegaskan otoritas-Nya atas Sabat. Sebagai Pencipta, Kristus mengetahui tujuan hari itu sejak awal. Karena itu, Ia dapat memperbaiki penyimpangan manusia tanpa menghancurkan perintah ilahi.
Konfliknya dengan tradisi manusia, bukan dengan hukum Allah
Banyak kebingungan muncul dari pertentangan antara Yesus dan orang Farisi. Beberapa kali mereka menuduh Kristus karena tindakan-Nya pada hari Sabat. Namun masalahnya bukan karena Yesus melanggar hukum Allah. Konfliknya adalah dengan tafsiran dan pembatasan manusia yang telah mengubah Sabat menjadi beban.
Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Ia mengizinkan murid-murid-Nya memetik bulir gandum untuk dimakan. Ia mengajar bahwa berbuat baik pada hari Sabat adalah benar (Matius 12:12). Tindakan-tindakan ini tidak melemahkan perintah. Semuanya menunjukkan bahwa Sabat tidak pernah diberikan untuk menghalangi belas kasihan, penyembuhan, atau pemulihan.
Sabat Alkitab bukan hari untuk bersikap acuh terhadap penderitaan orang lain. Sabat adalah waktu untuk bersekutu dengan Allah dan mengasihi sesama. Ketika Yesus menyembuhkan seseorang pada hari Sabat, Ia menyatakan inti perintah itu: perhentian dari Allah, pemulihan bagi manusia, dan pembebasan dari beban yang dibawa oleh dosa.
Yesus tidak mengesahkan perubahan ke hari Minggu
Hal lain perlu dikatakan dengan jelas: Injil tidak mencatat bahwa Yesus memindahkan kekudusan Sabat ke hari Minggu. Kebangkitan Kristus adalah pusat iman Kristen, tetapi Alkitab tidak memberikan perintah yang mengatakan bahwa hari pertama menggantikan hari ketujuh.
Pelajaran Perubahan ke Minggu membahas langsung soal otoritas ini. Masalahnya bukan selera pribadi, tradisi keluarga, atau kenyamanan budaya. Pertanyaan Alkitab adalah: di mana Allah memerintahkan perubahan terhadap hari yang Ia berkati dan kuduskan?
Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17). Menggenapi bukan berarti membuatnya tidak berlaku. Itu berarti menyatakan sepenuhnya makna kehendak Allah. Kristus menghidupi hukum secara sempurna dan menunjukkan bahwa ketaatan sejati lahir dari kasih, bukan dari legalisme.
Murid-murid tetap memahami Sabat sebagai perintah
Setelah kematian Yesus, Lukas mencatat bahwa para perempuan yang mengikuti-Nya “beristirahat pada hari Sabat menurut hukum Taurat” (Lukas 23:56). Detail ini sederhana, tetapi penting. Teks itu tidak menunjukkan bahwa salib telah meniadakan Sabat atau bahwa para murid sudah memahami adanya hari pemeliharaan yang baru.
Kitab Kisah Para Rasul juga menunjukkan pertemuan dan pengajaran pada hari Sabat. Paulus berkhotbah di rumah-rumah ibadat pada hari itu dan menjangkau orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Pelajaran Sabat dalam Perjanjian Baru membahas teks-teks ini lebih dalam dan juga meneliti ayat-ayat yang sering dipakai untuk membela peniadaan Sabat.
Ini tidak berarti keselamatan bergantung pada pemeliharaan Sabat. Keselamatan adalah oleh kasih karunia, diterima melalui iman kepada Kristus. Ketaatan tidak membeli pengampunan. Tetapi kasih karunia juga tidak menjadikan kehendak Allah yang dinyatakan sebagai hal yang tidak penting. Orang yang mengasihi Kristus ingin belajar dari-Nya.
Sabat Yesus adalah istirahat, penyembahan, dan belas kasihan
Yesus membebaskan Sabat dari dua kesalahan umum. Yang pertama adalah legalisme, yang mengubah hari itu menjadi daftar larangan tanpa sukacita. Yang kedua adalah pengabaian, yang memperlakukan perintah itu seolah-olah Kristus telah membuangnya.
Jalan Yesus lebih Alkitabiah dan lebih mendalam. Ia memelihara Sabat sebagai hari penyembahan. Ia memakai Sabat untuk mengajar Kitab Suci. Ia berbuat baik pada hari Sabat. Ia menempatkan orang yang menderita di atas aturan manusia yang menghalangi belas kasihan.
Karena itu, bertanya “apa yang boleh atau tidak boleh saya lakukan?” sering kali belum cukup. Pertanyaan yang lebih baik adalah: “apakah pilihan ini menghormati Pencipta, menguatkan persekutuan saya dengan Allah, dan menyatakan kasih kepada sesama?” Pelajaran Bagaimana Memelihara Sabat Hari Ini membantu menerapkan prinsip-prinsip ini tanpa jatuh ke dalam formalitas kosong.
Lanjutkan belajar
Yesus tidak meniadakan Sabat. Ia menyatakan tujuannya yang benar. Sabat terus menunjuk kepada Allah sebagai Pencipta, kepada Kristus sebagai Penebus, dan kepada hidup yang belajar beristirahat dalam kasih karunia tanpa meremehkan ketaatan.
Untuk memeriksa tema ini dengan lebih tenang, lanjutkan dengan studi Sabat. Studi ini menyajikan asal mula Sabat, tempatnya dalam hukum Allah, teladan Yesus, perubahan historis ke hari Minggu, dan prinsip praktis untuk menjalani hari ini.
Terus belajar
Sabat
Hari ketujuh dari penciptaan sampai hari ini: mengapa masih penting?
Baca pelajaran AlkitabArtikel terkait
Sabat: istirahat, penciptaan, dan penebusan
Sabat Alkitabiah menunjuk kepada Allah sebagai Pencipta dan Penebus. Lebih dari jeda mingguan, Sabat mengajarkan kepercayaan, penyembahan, dan pemulihan.
Sabat adalah tanda menjadi milik Pencipta dan Penebus
Sabat Alkitabiah menunjuk kepada penciptaan, penebusan, istirahat, dan hubungan dengan Allah.